Pasar Murah di Buluran Kenali: Menjaga Akses Pangan di Tengah Agrowisata Kampung Pangan

Kamis, 08 Oktober 2026 - 14:27:16 WIB - Dibaca: 62 kali

Pasar murah menyediakan beras dan minyak goreng dengan harga terjangkau dalam rangkaian kegiatan Agrowisata Tanaman Koro dan Kampung Pangan di Buluran Kenali. Foto: Tania
Pasar murah menyediakan beras dan minyak goreng dengan harga terjangkau dalam rangkaian kegiatan Agrowisata Tanaman Koro dan Kampung Pangan di Buluran Kenali. Foto: Tania ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Di tengah kegiatan agrowisata tanaman koro dan Kampung Pangan yang berlangsung di Buluran Kenali, Kota Jambi, pada 7 Oktober 2026, kebutuhan pangan masyarakat menjadi salah satu perhatian yang mendapat ruang. Pasar murah digelar dengan menyediakan sejumlah bahan pokok, terutama beras dan minyak goreng, dengan harga yang lebih terjangkau.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian acara Kampung Pangan. Kehadiran pasar murah memberikan akses langsung bagi masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan pokok tanpa harus membeli dalam jumlah besar. Beras dan minyak goreng yang disediakan juga menjadi komoditas yang dibatasi pembeliannya agar stok dapat dinikmati lebih banyak warga.

Petugas Pangan Bulog, Ilham, mengatakan pihaknya membawa 100 dus atau setara 1.200 liter minyak goreng Minyak Kita dalam kegiatan tersebut. Selain itu, Bulog menyediakan 250 kilogram beras yang dikemas dalam 50 sak dengan ukuran masing-masing lima kilogram.

“Untuk minyak goreng Minyak Kita yang kita bawa total 100 dus atau 1.200 liter. Sedangkan beras sebanyak 250 kilogram atau 50 sak,” kata Ilham.

Harga di Bawah Pasar Menjadi Daya Tarik

Dalam pasar murah tersebut, beras kemasan lima kilogram dijual seharga Rp54 ribu. Sementara minyak goreng Minyak Kita dipasarkan dengan harga Rp15.500 per liter.

Harga tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat yang datang ke lokasi kegiatan. Pasar murah memberi pilihan bagi warga untuk memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang telah ditetapkan dalam kegiatan tersebut.

Namun, ketersediaan barang yang terbatas membuat pembelian tidak dapat dilakukan tanpa batas. Panitia atau penyelenggara menerapkan ketentuan maksimal pembelian dua liter minyak goreng dan dua sak beras atau setara 10 kilogram untuk setiap orang.

Pembatasan itu menjadi mekanisme untuk menjaga pemerataan. Dengan stok yang tersedia dalam jumlah tertentu, kesempatan membeli tidak hanya terkonsentrasi pada sebagian masyarakat.

20 Sak Beras Sudah Terjual

Antusiasme masyarakat terlihat dari penjualan beras selama kegiatan berlangsung. Dari total 50 sak beras yang disediakan Bulog, sebanyak 20 sak telah terjual.

Artinya, hampir separuh dari stok beras yang disiapkan telah terserap masyarakat selama kegiatan berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan adanya permintaan terhadap bahan pangan yang ditawarkan dalam pasar murah tersebut.

Jika dihitung berdasarkan kemasan lima kilogram, 20 sak beras yang telah terjual setara dengan 100 kilogram beras. Sementara stok yang tersedia pada awal kegiatan mencapai 250 kilogram atau 50 sak.

Untuk minyak goreng, Bulog menyiapkan 1.200 liter. Dengan ketentuan pembelian maksimal dua liter per orang, stok tersebut secara teoritis dapat menjangkau hingga 600 pembeli apabila setiap pembeli mengambil jumlah maksimal. Sementara untuk beras, stok 250 kilogram dengan batas maksimal 10 kilogram per orang secara teoritis dapat menjangkau sedikitnya 25 pembeli jika seluruhnya membeli pada batas maksimal.

Perhitungan tersebut menggambarkan bagaimana jumlah stok dan batas pembelian saling berkaitan dalam upaya memperluas jangkauan pasar murah.

Pasar Murah dalam Konteks Kampung Pangan

Pasar murah tersebut digelar bersamaan dengan kegiatan agrowisata tanaman koro dan Kampung Pangan di Buluran Kenali. Konsep kegiatan tidak hanya menghadirkan sisi agrowisata, tetapi juga mempertemukan masyarakat dengan kegiatan yang berkaitan langsung dengan pangan.

Kehadiran pasar murah memperluas fungsi kegiatan tersebut. Masyarakat yang datang tidak hanya mendapatkan pengalaman dari kegiatan agrowisata dan Kampung Pangan, tetapi juga memperoleh kesempatan membeli bahan kebutuhan pokok dengan harga yang relatif terjangkau.

Dalam konteks ketahanan pangan masyarakat, akses terhadap bahan pangan menjadi bagian penting. Ketersediaan pangan saja tidak cukup apabila masyarakat kesulitan memperolehnya. Karena itu, kegiatan yang menghadirkan pangan dengan harga terjangkau dapat menjadi salah satu bentuk intervensi langsung untuk mempertemukan pasokan dengan kebutuhan masyarakat.

Beras dan minyak goreng dipilih sebagai komoditas yang disediakan dalam pasar murah. Keduanya merupakan bahan yang umum digunakan dalam kebutuhan rumah tangga sehari-hari, sehingga ketersediaannya memiliki keterkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat.

Menjaga Pemerataan di Tengah Permintaan

Antusiasme masyarakat sekaligus menunjukkan pentingnya pengaturan distribusi dalam kegiatan pasar murah. Ketika barang dijual dengan harga yang menarik dan jumlahnya terbatas, potensi pembelian dalam jumlah besar oleh sebagian konsumen perlu dikendalikan.

Batas dua liter minyak goreng dan dua sak beras per orang menjadi salah satu instrumen untuk menjaga agar stok tidak cepat habis karena pembelian dalam jumlah besar oleh individu tertentu.

Dengan pola tersebut, pasar murah tidak hanya berorientasi pada penjualan barang, tetapi juga pada pemerataan akses. Setiap masyarakat yang datang memiliki kesempatan untuk mendapatkan bahan pangan selama persediaan masih tersedia.

Di sisi lain, jumlah stok yang terbatas juga menunjukkan bahwa pasar murah bukanlah satu-satunya sumber pasokan pangan masyarakat. Kegiatan semacam ini lebih berfungsi sebagai salah satu alternatif akses pangan pada momentum tertentu, terutama ketika kegiatan masyarakat berlangsung di suatu wilayah.

Lebih dari Sekadar Transaksi

Pasar murah di Buluran Kenali pada akhirnya memperlihatkan hubungan antara kegiatan pangan, masyarakat, dan akses terhadap kebutuhan pokok. Dalam satu rangkaian kegiatan, tanaman koro dan Kampung Pangan menjadi konteks yang lebih luas, sementara pasar murah menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Bulog membawa 1.200 liter minyak goreng dan 250 kilogram beras untuk memenuhi kebutuhan dalam kegiatan tersebut. Harga Rp15.500 per liter untuk Minyak Kita dan Rp54 ribu untuk beras lima kilogram menjadi angka penting dalam transaksi pasar murah.

Sementara itu, pembatasan pembelian dan penjualan 20 sak beras hingga kegiatan berlangsung menggambarkan dua sisi dari kegiatan tersebut: adanya permintaan masyarakat sekaligus perlunya pengaturan agar persediaan dapat dibagi secara lebih merata.

Di tengah rangkaian agrowisata dan Kampung Pangan, pasar murah menjadi salah satu bagian yang menghubungkan agenda pangan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Bukan hanya soal berapa banyak barang yang dijual, tetapi juga bagaimana bahan pangan dapat diakses masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau dan distribusi yang lebih merata. (tdr)





BERITA BERIKUTNYA