Kabut Asap Pekat Kepung Tebo, ISPU Capai 305 dan Sekolah Masih Belajar Daring

Rabu, 07 Oktober 2026 - 13:53:15 WIB - Dibaca: 130 kali

Kabut asap tampak menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Tebo, Jambi, Rabu (7/10/2026).Foto: Syahrial
Kabut asap tampak menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Tebo, Jambi, Rabu (7/10/2026).Foto: Syahrial ()

JAMBIPRIMA.COM, TEBO — Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, hingga Rabu (7/10/2026) masih tampak pekat. Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan jarak pandang, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat dan memunculkan keluhan kesehatan.

Asap yang bertahan di sejumlah kawasan membuat kondisi lingkungan menjadi tidak nyaman. Warga mengeluhkan pandangan yang terbatas ketika beraktivitas di luar rumah, mata terasa perih, hingga muncul gangguan pada pernapasan.

Situasi ini menjadi perhatian karena paparan asap tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga membatasi ruang gerak masyarakat. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah menghadapi kondisi udara yang semakin tidak sehat, sementara kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia dinilai memiliki risiko lebih besar terhadap dampak buruk polusi udara.

ISPU Tebo Capai 305, Masuk Kategori Berbahaya

Berdasarkan pantauan PortalTebo.id pada laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), kondisi kualitas udara di Kabupaten Tebo menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Tebo dilaporkan mencapai 305, yang berada dalam kategori berbahaya.

Angka tersebut menjadi indikator bahwa persoalan kabut asap di Tebo telah berada pada tingkat yang perlu mendapat perhatian serius. Kualitas udara yang memburuk tidak lagi sebatas persoalan jarak pandang atau ketidaknyamanan, tetapi berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat apabila paparan berlangsung terus-menerus.

Kondisi udara yang buruk juga membuat aktivitas warga harus menyesuaikan keadaan. Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan menghadapi paparan asap, sementara sebagian lainnya memilih mengurangi kegiatan di luar rumah.

Dampak Menjalar ke Dunia Pendidikan

Dampak kabut asap juga telah merambah sektor pendidikan. Pemerintah Kabupaten Tebo sebelumnya beberapa kali mengeluarkan surat edaran terkait pelaksanaan pembelajaran secara daring sebagai respons terhadap kondisi udara yang tidak sehat.

Setidaknya sudah empat kali kebijakan pembelajaran daring diterapkan Pemkab Tebo akibat memburuknya kualitas udara.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya perlindungan terhadap peserta didik. Anak-anak tidak harus berada di lingkungan sekolah ketika kualitas udara berada dalam kondisi yang berisiko terhadap kesehatan.

Hingga Rabu (7/10/2026), pembelajaran di sejumlah sekolah di Kabupaten Tebo masih dilakukan secara daring.

Perubahan pola belajar ini memperlihatkan bahwa dampak kabut asap telah bergerak lebih jauh dari sekadar gangguan terhadap aktivitas masyarakat di jalan. Kualitas udara yang buruk telah memengaruhi kegiatan belajar mengajar dan memaksa sebagian anak mengikuti proses pendidikan dari rumah.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga menunjukkan besarnya dampak yang ditimbulkan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ketika asap bertahan dalam waktu yang cukup panjang.

Warga Mulai Khawatir

Bagi masyarakat, persoalan utama bukan hanya kapan kabut asap akan menghilang, tetapi juga bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kesehatan mereka jika terus berlanjut.

Anak-anak yang seharusnya menjalani aktivitas pendidikan secara normal kini harus belajar dari rumah. Warga yang bekerja dan beraktivitas di luar ruangan harus menghadapi jarak pandang yang menurun. Sementara itu, keluhan seperti mata perih dan sesak napas mulai dirasakan sebagian masyarakat.

Situasi tersebut membuat harapan terhadap turunnya hujan semakin besar. Hujan diharapkan dapat membantu mengurangi pekatnya asap dan memperbaiki kualitas udara sehingga aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.

Kabut asap yang masih menyelimuti Tebo pada Rabu ini menjadi gambaran bahwa persoalan karhutla belum sepenuhnya berakhir. Ketika kualitas udara mencapai level berbahaya dan sekolah masih menerapkan pembelajaran daring, dampaknya telah menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Menutup keluhannya, Ahmad, warga Kecamatan Tebo Tengah, berharap kondisi tersebut segera berakhir dan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas tanpa dibayangi kabut asap.

“Semoga kabut asap ini segera berakhir,” harapnya. (syh)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA