JAMBIPRIMA.COM,. JAMBI – Kualitas udara di Kota Jambi masih berada pada level tidak sehat. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah kabupaten tetangga yang terbawa angin masuk ke kawasan perkotaan.
Berdasarkan pemantauan real-time IQAir pada Rabu pagi (12/8/2026), Kota Jambi masih masuk dalam daftar 10 kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Pada pukul 08.27 WIB, Kota Jambi berada di posisi ke-10 dengan Air Quality Index (AQI) US sebesar 124.
Sementara itu, salah satu stasiun pemantauan lokal di Kota Jambi mencatat angka yang lebih tinggi, yakni AQI 161. Angka tersebut berada dalam kategori tidak sehat dan menunjukkan kondisi udara yang perlu diwaspadai masyarakat.
Buruknya kualitas udara tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 di udara. Peningkatan partikulat ini diduga kuat berkaitan dengan asap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Kota Jambi.
Meski demikian, kondisi udara yang memburuk bukan berarti terdapat karhutla di dalam wilayah administratif Kota Jambi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi sebelumnya menyatakan tidak menemukan titik panas atau hotspot di wilayah kota.
Sekretaris DLH Kota Jambi, Pahlewi, mengatakan asap yang menyelimuti Kota Jambi diduga merupakan asap kiriman dari wilayah kabupaten tetangga.
Dari hasil pemetaan titik panas serta pergerakan arah angin, potensi sumber asap yang masuk ke Kota Jambi berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Muaro Jambi, Tebo dan Tanjung Jabung Barat.
Asap dari lokasi karhutla tersebut kemudian terbawa pergerakan angin menuju wilayah Kota Jambi. Kondisi itu menyebabkan konsentrasi PM2,5 di udara perkotaan meningkat dan berdampak terhadap kualitas udara yang dirasakan masyarakat.
Partikulat PM2,5 menjadi salah satu parameter penting dalam menilai kualitas udara karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam kondisi konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Kondisi udara yang tidak sehat ini juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat. Kabut asap dapat menyebabkan jarak pandang berkurang, menimbulkan rasa tidak nyaman pada mata dan tenggorokan, serta memperburuk kondisi bagi masyarakat yang sensitif terhadap paparan polusi udara.
DLH Kota Jambi hingga kini terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kualitas udara, termasuk mengamati konsentrasi PM2,5 dan pergerakan asap yang masuk ke wilayah Kota Jambi.
Masyarakat diimbau tetap waspada dan memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan diminta lebih berhati-hati.
Apabila kualitas udara kembali memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan, terutama bagi warga yang harus tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang berasap.
Pemantauan kualitas udara secara berkala dinilai penting dilakukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan dan mengurangi risiko paparan polusi udara selama musim karhutla masih berlangsung. (DVD)
Banggar DPRD Tebo Rampungkan KUA-PPAS 2027, Pendapatan Diproyeksi Rp970 Miliar
Tujuh Depo Sampah Kota Jambi Ditargetkan Rampung Akhir Agustus
DWP Jambi Tanam Pohon, Dorong Penghijauan di Tengah Cuaca Panas
SAH Minta Semua Pihak Waspadai Karhutla di Jambi Saat Musim Kemarau
PWI Tahlilan dan Doa Bersama Tiga Hari Wafatnya Almarhum Heri Farmansyah
Rumah 5 KK Ludes Terbakar, Pemkab Tebo Salurkan Bantuan ke Korban