Gubernur Al Haris: Program MBG Gerakkan Ekonomi Daerah, Rp7,2 Miliar Berputar Setiap Hari di Jambi

Sabtu, 02 Mei 2026 - 16:13:31 WIB - Dibaca: 73 kali

Gubernur Jambi Al Haris menghadiri Rapat Konsolidasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Badan Gizi Nasional, menegaskan komitmen memperkuat gizi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Gubernur Jambi Al Haris menghadiri Rapat Konsolidasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Badan Gizi Nasional, menegaskan komitmen memperkuat gizi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. (David )

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Pemerintah Provinsi Jambi menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN). Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Jambi Al Haris saat menghadiri Rapat Konsolidasi Pelaksanaan MBG bersama Wakil Kepala BGN Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Sudirman, jajaran BGN pusat, Satgas MBG kabupaten/kota, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mitra, dan relawan di BW Luxury Hotel Jambi, Sabtu (2/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Al Haris mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program MBG di Provinsi Jambi terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga saat ini, sebanyak 205 SPPG telah hadir di berbagai wilayah di Provinsi Jambi, terdiri dari 173 unit yang sudah beroperasi dan 32 unit yang siap beroperasi dalam waktu dekat. Sementara itu, sebanyak 302 SPPG lainnya masih berada dalam tahap persiapan dan survei lapangan.

Menurut Al Haris, Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Program ini menyasar anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui yang kurang gizi. Namun manfaatnya jauh lebih luas karena mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dari tingkat desa hingga kabupaten,” ujar Al Haris.

Ia menjelaskan, keberadaan program tersebut telah menciptakan pasar yang jelas bagi petani, peternak, dan pelaku usaha lokal. Berbagai produk pertanian maupun peternakan yang sebelumnya banyak dipasarkan ke luar daerah, kini dapat terserap langsung untuk memenuhi kebutuhan SPPG di Jambi.

“Dulu banyak yang menjual hasil produksi ke luar daerah. Sekarang cukup di Jambi saja sudah terserap. Ini tentu sangat membantu perekonomian masyarakat dan memperkuat perputaran uang di daerah,” tambahnya.

Meski demikian, Al Haris mengingatkan pentingnya peningkatan produksi pangan, terutama beras. Saat ini, Provinsi Jambi baru mampu memenuhi sekitar 71 persen kebutuhan beras secara mandiri. Sementara untuk komoditas telur ayam, kebutuhan masyarakat sudah dapat dipenuhi dari produksi lokal.

Sementara itu, Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya mengungkapkan bahwa Program MBG di Provinsi Jambi saat ini telah menjangkau sekitar 446 ribu penerima manfaat dengan melibatkan sedikitnya 545 supplier dalam rantai pasok pangan.

Setiap hari, kata Sony, program tersebut mampu memutar anggaran hingga Rp7,2 miliar yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.

Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp963,5 juta dialokasikan untuk honor 9.635 tenaga kerja dan relawan. Kemudian Rp881,5 juta digunakan untuk biaya operasional, meliputi penyediaan air minum, gas, bahan bakar minyak, alat pelindung diri, dan perlengkapan pendukung lainnya. Sedangkan sekitar Rp4,1 miliar digunakan untuk belanja bahan pangan lokal seperti beras, daging ayam, telur, buah-buahan, dan sayuran.

“Uang tersebut sepenuhnya beredar di tingkat bawah karena SPPG berada di desa-desa. Dana ini masuk langsung ke petani, peternak, pedagang beras, penjual ayam, telur, buah dan sayur. Inilah yang menggerakkan ekonomi rakyat,” tegas Sony.

Ia juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak melakukan penyimpangan dalam pengelolaan rantai pasok maupun pengadaan barang. Satgas MBG di setiap daerah diminta memastikan seluruh SPPG benar-benar memprioritaskan penyerapan produk lokal.

Selain itu, Sony menegaskan bahwa sasaran utama Program MBG tetap difokuskan kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan.

“Kita tidak boleh terbalik. Prioritas utama tetap kelompok rentan karena mereka yang paling membutuhkan intervensi gizi,” tegasnya.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, Badan Gizi Nasional juga akan menerapkan sistem evaluasi berbasis aplikasi mulai pekan depan. Melalui sistem tersebut, penerima manfaat dapat memberikan penilaian terkait ketepatan waktu distribusi makanan, kualitas aroma dan rasa makanan, variasi menu, hingga kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP).

Langkah ini dilakukan guna mencegah terjadinya pelanggaran SOP yang dapat menimbulkan persoalan di lapangan sekaligus memastikan seluruh pelaksanaan Program MBG berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Dalam sesi wawancara, Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Sudirman menyampaikan bahwa rapat konsolidasi tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat sinergi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program MBG.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Jambi, kami mengapresiasi dan mendukung penuh suksesnya Program Makan Bergizi Gratis di Provinsi Jambi,” ujar Sudirman.

Pemprov Jambi juga terus mendorong penguatan rantai pasok pangan melalui pemberdayaan masyarakat, seperti pengembangan urban farming, rooftop gardening, vertical garden, hingga desa tematik pangan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjamin ketersediaan bahan baku bagi SPPG sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Melalui rapat konsolidasi ini, Pemerintah Provinsi Jambi berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan semakin optimal, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat serta pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (DVD)





BERITA BERIKUTNYA