JAMBIPRIMA.COM,JAMBI – Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Jambi mencatat, angka kekerasan terhadap perempuan maupun anak di Kota Jambi mengalami peningkatan tiap tahunnya.
Namun, Kepala DPMPPA Kota Jambi, Noverintiwi Dewanti menegaskan, hal ini tidak semata dipandang seberapa banyak kasus yang masuk ke pihaknya, melalui UPTD PPA Kota Jambi.
“Namun ini juga lantaran sudah banyak yang berani melapor,” kata dia.
Sebab dijelaskan Noverintiwi Dewanti, kasus kekerasan perempuan dan anak ini bagaikan fenomena gunung es. Yang sebelumnya hanya tampak beberapa, semenjak UPTD PPA dibuka, banyak masyarakat yang melapor.
“UPTD ini berdiri tahun 2019. Ini juga kita lakukan secara masif, mendatangi sekolah hingga pemukiman warga. Hasilnya memang, banyak yang akhirnya mau menceritakan apa yang dialami. Khususnya kekerasan,” terangnya.
Adapun jumlah kekerasan yang terdata di DPMPPA Kota Jambi, yakni pada tahun 2017 sebanyak 67 kasus, 2018 85 kasus, 2019 68 kasus, 2020 130 kasus dan 2021 sebanyak 123 kasus.
“Untuk tahun 2022, hingga Agustus kemarin itu tercatat ada 76 kasus. Yang terbanyak kekerasan dialami oleh anak,” bebernya.
Ditanya faktor apa yang banyak menyebabkan kekerasan di dalam keluarga, dirinya menyebutkan adalah faktor keluarga lebih dominan.
“Keluarga dekat paling banyak yang melakukan kekerasan,” sebutnya.
Hanya saja memang, dirinya tak menyebutkan secara gamblang bentuk kekerasan apa yang dilakukan oleh keluarga terdekat para korban yang melapor ke pihaknya tersebut.
“Karena juga, hal ini bersifat rahasia. Sehingga para korban akhirnya mau bercerita,” jelasnya.
"Jadi setelah kami turun ke RT-RT itu memang banyak yang tidak dilaporkan. Sehingga pada tahun 2019 lalu UPTD PPA Kota Jambi telah dibentuk dan memang kasus yang ditangani ada peningkatan. Jadi mungkin kasusnya ada sejak beberapa tahun lalu, tapi mungkin banyak masyarakat yang tidak melaporkan," pungkasnya. (Ahmad)