Ketika Budaya Bungo Tak Sekadar Warisan, Tapi Menjadi Kekuatan Ekonomi dan Pariwisata

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:30:16 WIB - Dibaca: 169 kali

Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn., saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan kebudayaan Kabupaten Bungo di Rumah Anjungan Bungo, Taman Mini Melayu Jambi, Jumat (21/8/2026). Foto: Saudi
Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn., saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan kebudayaan Kabupaten Bungo di Rumah Anjungan Bungo, Taman Mini Melayu Jambi, Jumat (21/8/2026). Foto: Saudi ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Upaya menjaga kebudayaan daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman kembali digaungkan Pemerintah Kabupaten Bungo. Melalui rangkaian kegiatan kebudayaan yang mengangkat tema “Tak Lekang Budayo Diterpa Zaman, di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun”, Kabupaten Bungo menampilkan wajah budayanya di hadapan masyarakat Provinsi Jambi, Jumat (21/8/2026) malam.

Kegiatan yang dipusatkan di Rumah Anjungan Bungo, Taman Mini Melayu (Eks STQ/MTQ Jambi) tersebut berlangsung meriah pada Jumat (21/8/2026) malam. Agenda ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan kesenian tradisional, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif yang tumbuh di Kabupaten Bungo.

Pembukaan kegiatan dilakukan langsung Gubernur Jambi, Al Haris, yang ditandai dengan pemukulan rebana. Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya rangkaian kegiatan sekaligus penegasan bahwa kebudayaan memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah.

Suasana pembukaan terasa kental dengan nuansa Melayu. Sejumlah kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari tari-tarian, musik tradisional, pertunjukan budaya, fashion berbasis wastra hingga pawai budaya.

Kehadiran berbagai unsur pemerintahan turut memperlihatkan bahwa agenda kebudayaan tidak berdiri sendiri. Jajaran Forkopimda Provinsi Jambi dan Forkopimda Kabupaten Bungo hadir bersama sejumlah kepala daerah, di antaranya Wali Kota Jambi, Bupati Merangin, Wakil Bupati Tebo, Wakil Bupati Batanghari dan Wakil Bupati Sarolangun.

Pertemuan para pemangku kepentingan dari berbagai daerah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan antardaerah. Setiap daerah membawa kekhasan masing-masing, namun seluruhnya berada dalam satu ruang kebudayaan Jambi.

Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman

Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn., menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sebatas agenda hiburan. Di balik pertunjukan yang ditampilkan, terdapat kepentingan yang lebih besar, yakni memastikan warisan budaya Bungo tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

“Kita ingin budaya Bungo tidak hanya menjadi kenangan, tetapi terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, kita memperkenalkan kembali kekayaan budaya Bungo kepada generasi muda sekaligus kepada masyarakat dari luar daerah,” ujar Dedy.

Menurut Dedy, tema “Tak Lekang Budayo Diterpa Zaman” menjadi pesan bahwa perubahan dan kemajuan tidak seharusnya membuat masyarakat tercerabut dari identitas daerahnya.

Perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup dan derasnya arus budaya dari luar memang tidak dapat dihindari. Namun, kondisi tersebut justru menuntut adanya kemampuan untuk merawat nilai-nilai lokal agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.

“Kemajuan zaman harus kita ikuti, tetapi identitas budaya jangan sampai kita tinggalkan. Justru budaya harus kita jadikan kekuatan untuk membangun daerah, termasuk dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Pandangan tersebut menempatkan kebudayaan bukan hanya sebagai peninggalan leluhur, tetapi sebagai aset pembangunan. Seni tradisional, kain atau wastra, kuliner, kerajinan, pertunjukan dan berbagai ekspresi budaya dapat dikembangkan menjadi bagian dari industri kreatif sepanjang tetap menjaga nilai serta karakter lokal.

Dari Panggung Budaya Menuju Pariwisata

Kegiatan kebudayaan Kabupaten Bungo juga memperlihatkan adanya hubungan erat antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata.

Kekayaan budaya dapat menjadi alasan bagi masyarakat untuk mengenal sebuah daerah. Ketika kesenian, tradisi, cerita lokal, produk kerajinan dan kuliner dipadukan dengan destinasi wisata, terbentuk pengalaman yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga identitas.

Dalam konteks tersebut, kegiatan di Rumah Anjungan Bungo menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan Bungo melalui pendekatan budaya.

Pelibatan pelaku seni, budayawan, generasi muda dan pelaku UMKM juga membuka ruang yang lebih luas. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi memiliki kesempatan untuk memperlihatkan karya dan produk yang lahir dari kekayaan lokal.

Jika dikembangkan secara konsisten, ekosistem semacam ini dapat memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Budaya tidak hanya dipelihara melalui seremoni, tetapi dapat memberikan ruang usaha bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kreativitas dan produk lokal.

Gubernur Jambi Al Haris memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang digelar Kabupaten Bungo. Menurutnya, budaya merupakan identitas yang melekat pada masyarakat dan harus diwariskan kepada generasi muda.

“Saya mengapresiasi kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan Kabupaten Bungo ini. Kebudayaan adalah identitas kita. Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya luar daripada budayanya sendiri,” ujar Al Haris. (Sab)

 



Tags:


BERITA BERIKUTNYA