Dari Rumah Prajurit, Lissa Batik Angkat Motif Khas Bungo ke Publik

Kamis, 30 April 2026 - 10:52:24 WIB - Dibaca: 99 kali

Ny. Lia Syarif menunjukkan hasil karya “Lissa Batik” bermotif khas Bungo di kediamannya, sebagai bagian dari upaya mengembangkan usaha batik rumahan yang kini mulai dikenal luas.
Ny. Lia Syarif menunjukkan hasil karya “Lissa Batik” bermotif khas Bungo di kediamannya, sebagai bagian dari upaya mengembangkan usaha batik rumahan yang kini mulai dikenal luas. (Zakaria)

JAMBIPRIMA.COM, BUNGO – Usaha batik rumahan di Kabupaten Bungo mulai menunjukkan geliatnya. Berawal dari ketertarikan sederhana, seorang ibu rumah tangga yang juga istri prajurit TNI kini berhasil mengembangkan produk batik berciri khas lokal yang mulai dikenal masyarakat.

Adalah Ny. Lia Syarif, penggagas “Lissa Batik”, yang perlahan membangun usahanya sejak mengikuti pelatihan membatik di desa pada tahun 2022. Dari sekadar mencoba, ia kemudian menekuni keterampilan tersebut hingga berani menerima pesanan.

“Awalnya coba-coba, tapi ternyata banyak yang suka,” ujarnya. Kamis (29/4/2026).

Seiring waktu, produksi batiknya terus berkembang. Saat ini, “Lissa Batik” mampu menghasilkan sekitar 35 lembar batik setiap bulan dengan mengusung motif khas daerah Bungo.

Motif yang dihadirkan pun beragam, seperti Bungo Dani, Putri Malu, hingga Daun Sirih Pinang. Selain memiliki nilai estetika, motif-motif tersebut juga sarat filosofi yang menggambarkan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.

Tak hanya fokus pada produksi, Ny. Lia juga aktif memperkenalkan seni membatik kepada generasi muda. Ia kerap memenuhi undangan ke sekolah-sekolah untuk berbagi pengetahuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.

Perjalanan usahanya turut didukung berbagai pihak, mulai dari pelatihan, komunitas, hingga pembinaan dari pemerintah daerah yang membantu pengembangan usaha batik tersebut.

Meski demikian, Ny. Lia tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan istri prajurit. Ia menilai, usaha batik yang dijalankannya bukan semata untuk keuntungan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan.

“Harapannya bisa bantu ibu-ibu punya penghasilan tanpa meninggalkan keluarga,” ungkapnya.

Kisah ini menjadi gambaran bahwa dari usaha rumahan, karya bernilai budaya dan ekonomi dapat tumbuh sekaligus menjaga kelestarian warisan daerah di tengah perkembangan zaman. (San)

 
 
 


Tags:


BERITA BERIKUTNYA