Pelestarian Budaya atau Strategi Ekonomi? Membaca Arah Pelatihan Membatik di Rumah Tuo R. Panjang

Selasa, 28 April 2026 - 12:33:10 WIB - Dibaca: 85 kali

Wakil Bupati Merangin H A Khafidh bersama Ketua TP PKK Merangin Hj Lavita Syukur, jajaran pejabat daerah, dan peserta pelatihan membatik berfoto bersama usai pembukaan kegiatan di Situs Budaya Rumah Tuo Rantau Panjang, Senin (27/4).
Wakil Bupati Merangin H A Khafidh bersama Ketua TP PKK Merangin Hj Lavita Syukur, jajaran pejabat daerah, dan peserta pelatihan membatik berfoto bersama usai pembukaan kegiatan di Situs Budaya Rumah Tuo Rantau Panjang, Senin (27/4). (teguh-dayat)

JAMBIPRIMA.COM, MERANGIN – Upaya pelestarian budaya lokal kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Merangin. Kali ini melalui pelatihan membatik yang digelar di Situs Budaya Perkampungan tradisional Rumah Tuo Rantau Panjang, Senin (27/4).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Merangin H A Khafidh, mewakili Bupati H M Syukur. Sejumlah pejabat turut hadir, mulai dari Ketua TP PKK Merangin Hj Lavita Syukur, General Manager Badan Pengelola Geopark Merangin Jambi Agus Zainuddin, hingga jajaran kepala OPD terkait.

Namun lebih dari sekadar seremoni pembukaan, pelatihan ini menyimpan pesan strategis: bagaimana warisan budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diberi nilai ekonomi yang relevan dengan zaman.

“Kegiatan ini merupakan sebuah langkah nyata dalam upaya pelestarian budaya lokal, menggali dan mengangkat nilai-nilai historis serta estetika dari ukiran tradisional Rumah Tuo miliki Kabupaten Merangin,” ujar Wabup.

Rumah Tuo: Jejak Peradaban yang Diolah Ulang

Rumah Tuo Rantau Panjang selama ini dikenal sebagai simbol peradaban masyarakat Merangin. Bangunan tradisional tersebut bukan hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga filosofi adat yang telah diwariskan lintas generasi.

“Rumah Tuo Rantau Panjang bukan hanya sekedar bangunan, tetapi merupakan saksi sejarah peradaban masyarakat Merangin, yang syarat dengan filosofi, nilai adat dan identitas budaya yang luhur,” lanjutnya.

Dalam konteks ini, pelatihan membatik menjadi medium baru. Motif ukiran yang sebelumnya hanya melekat pada kayu rumah tradisional, kini dicoba ditransformasikan ke dalam kain batik sebuah bentuk adaptasi budaya yang lebih fleksibel dan berpotensi luas.

Dari Warisan ke Industri Kreatif

Langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah daerah tampak mulai membaca peluang bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

“Melalui pelatihan membatik ini, kita berupaya mentransformasikan motif-motif ukiran Rumah Tuo tersebut, menjadi langkah strategis menciptakan identitas budaya yang kuat, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat,” terang Wabup.

Transformasi ini bisa menjadi titik awal lahirnya produk khas Merangin yang memiliki daya saing, baik di tingkat regional maupun nasional. Jika dikelola serius, bukan tidak mungkin motif Rumah Tuo menjadi identitas visual baru yang dikenal luas.

Inklusivitas Jadi Sorotan

Menariknya, pelatihan ini tidak hanya menyasar kelompok tertentu. Peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Hal ini dinilai penting dalam menjaga kesinambungan budaya.

“Keterlibatan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa jelas wabup, menjadi indikator bahwa pelestarian budaya di Kabupaten Merangin bersifat inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Lebih jauh, pendekatan ini juga berkaitan dengan standar global, khususnya dalam upaya pengakuan warisan budaya.

“Ini merupakan poin penting dalam penilaian UNESCO, bahwa masyarakat menjadi subjek utama dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya di Kabupaten Merangin,” jelas Wabup lagi.

Tantangan: Konsistensi dan Keberlanjutan

Meski demikian, tantangan terbesar dari kegiatan semacam ini bukan pada pelaksanaannya, melainkan pada keberlanjutan pasca-pelatihan.

Apakah para peserta akan terus membatik?
Apakah ada pasar yang siap menyerap produk mereka?
Dan sejauh mana pemerintah daerah akan mendampingi proses ini hingga menjadi ekosistem ekonomi yang nyata?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Di akhir sambutannya, Wabup pun menegaskan harapan kepada generasi muda.

“Untuk itu Pemkab Merangin sambung wabup, mendukung dan mengapresiasi sepenuhnya kegiatan ini. Kepada generasi muda saya berpesan jadilah pelopor dalam menjaga dan mengembangkan budaya daerah,” pinta Wabup.

Jika pesan itu mampu diterjemahkan dalam aksi nyata, maka pelatihan membatik di Rumah Tuo bukan sekadar kegiatan budaya melainkan awal dari gerakan besar: menjadikan tradisi sebagai kekuatan ekonomi masa depan. (Sab)





BERITA BERIKUTNYA