Harga Karet Bungo Bangkit, Petani Kembali Bergairah Saat Getah Tembus Rp18.500 per Kilogram

Selasa, 19 Mei 2026 - 05:00:31 WIB - Dibaca: 209 kali

Tengkulak Karet Yang aktif Membeli Getah Petani.
Tengkulak Karet Yang aktif Membeli Getah Petani. (Saudi)

JAMBIPRIMA.COM, BUNGO – Setelah sempat terpuruk akibat fluktuasi harga dan melemahnya daya beli pasar, komoditas karet di Kabupaten Bungo kini kembali menunjukkan geliat positif. Dalam beberapa pekan terakhir, harga getah karet di tingkat tengkulak bertahan di angka Rp18 ribu hingga Rp18.500 per kilogram, kondisi yang mulai menghidupkan kembali aktivitas perkebunan masyarakat.

Kenaikan harga tersebut menjadi angin segar bagi ribuan petani karet di daerah itu. Di sejumlah dusun, aktivitas penyadapan yang sebelumnya sempat berkurang kini kembali ramai dilakukan sejak dini hari. Para petani mulai optimistis karena hasil kebun kembali mampu menopang kebutuhan rumah tangga.

Bagi masyarakat Bungo, karet bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi sumber penghidupan utama yang telah diwariskan turun-temurun. Saat harga jatuh dalam beberapa tahun terakhir, banyak petani terpaksa mengurangi perawatan kebun, bahkan ada yang beralih menjadi buruh harian demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kini, dengan harga yang perlahan membaik, harapan petani kembali tumbuh.

Sopian, petani karet asal Dusun Mangun Jayo, mengatakan stabilnya harga dalam beberapa pekan terakhir sangat membantu ekonomi masyarakat desa. Menurutnya, kondisi sekarang jauh lebih baik dibanding saat harga berada di bawah Rp10 ribu per kilogram.

“Sebagai petani karet tentu kami sangat senang karena harga masih stabil dari pekan lalu. Harga sekarang sangat membantu masyarakat,” ujar Sopian, Senin (18/5/2026).

Ia mengaku, ketika harga rendah, penghasilan dari hasil sadapan sering kali tidak sebanding dengan biaya operasional dan kebutuhan sehari-hari. Namun saat ini, petani mulai kembali bersemangat untuk mengelola kebun secara rutin.

Fenomena serupa juga dirasakan Ibnu. Ia menilai kenaikan harga karet membuat para petani kembali bergairah turun ke kebun meski cuaca belakangan tidak menentu dan kerap menghambat proses penyadapan.

“Setiap hari Minggu hasil sadapan langsung kami jual ke tengkulak. Alhamdulillah sekarang harganya sudah sangat menjanjikan. Kami jadi lebih semangat lagi karena harga sudah mendekati Rp20 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Menurut para petani, kenaikan harga tidak hanya berdampak pada penghasilan keluarga, tetapi juga mulai menggerakkan roda ekonomi desa. Warung-warung kecil kembali ramai, aktivitas jual beli meningkat, hingga pembayaran utang petani kepada toko maupun pengepul mulai lancar.

Di sisi lain, tengkulak atau penampung getah karet juga merasakan perubahan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Salah seorang tengkulak, Dolet, menyebut kenaikan harga di tingkat petani dipicu oleh meningkatnya harga jual dari pabrik pengolahan.

“Kalau harga dari pabrik naik, otomatis kami di bawah juga membeli dengan harga lebih tinggi. Kami tidak bisa main-main soal harga karena kasihan masyarakat,” jelas Dolet.

Ia menjelaskan, rantai perdagangan karet sangat bergantung pada kondisi pasar dan kualitas barang yang dijual petani. Karet dengan kadar air rendah dan kondisi bersih memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding getah bercampur kotoran.

“Kalau kualitas bagus tentu harganya juga tinggi. Semoga harga terus naik dan kami sebagai tengkulak akan tetap membeli sesuai harga pasar,” tutupnya.

Meski tren harga saat ini cukup menjanjikan, para petani berharap kestabilan harga dapat bertahan dalam jangka panjang. Sebab, naik turunnya harga karet selama ini menjadi persoalan utama yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat perkebunan di Kabupaten Bungo.

Dengan harga yang mulai mendekati Rp20 ribu per kilogram, sebagian petani kini mulai kembali menaruh harapan besar pada sektor perkebunan karet sebagai penopang ekonomi keluarga dan masa depan usaha tani mereka. (Sab)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA