Oleh: Kintan Aghna Khaira (Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Jambi)

Benarkah Artificial Intelligence Berbahaya ? Mengancam Kekuatan dan Kedaulatan Negara!!

Jumat, 21 Oktober 2022 - 11:14:18 WIB - Dibaca: 3561 kali

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi (Dok. Pribadi )

TEKNOLOGI AI (Artificial intelligence) adalah suatu kecerdasan buatan, simulasi dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan di dalam mesin dan juga di program agar bisa berpikir seperti halnya manusia.

Menurut Elon Reeve Musk, CEO SpaceX dan arsitek produksi Tesla, ia memperingatkan bagaimana bahaya dari kecerdasan buatan “ Artificial Inteliugence lebih berbahaya di bandingkan nuklir “. Belum jelas alasan terakit argumennya tersebut.

Pada April 2020. Indonesia di hebohkan dengan kemunculan seorang hacker atau sering di sebut “ Bjorka” tindakannua yang menyerang dan meretas keamanan data dan Menyebarkan data personal. Data tersebut antara lain user ID, password, email, hingga nomor telepon.

Pada 6 september 2022, bjorka membocorkan 105 juta data kependudukan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan membocorkan data pribadi dua menteri Kabinet Indonesia Maju, yaitu Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Aksinya ini di dukung oleh teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Aksinya di anggap mengganggu kedaulatan negara, walaupun di lain sisi aksinya ini banyak mendapat pujian dari karna keberaniannya membocorkan data dari beberapa pejabat negara bahkan data presiden juga berhasil di retas. Namun bjorka tidak hanya bermain dengan kemampuannya meggunakan AI melainkan juga memperjualbelikan data yang berhasil diretasnya dari perusahaan maupun pemerintah Indonesia. Salah satu yang dijualnya adalah dokumen pribadi Presiden Jokowi.

Brigjen Jhonny mengungkapkan perlunya pengaman dalam mengantisipasi dan melindungi Big Data dan Artificial Intelligence dari serangan hacker atau virus dan pentingnya regulasi sebagai penghubung yang mengatur pemanfaatan Artificial Intelligence.

“Saat ini sistem pengamanan negara di perbatasan secara teknologi masih minim dan belum optimalnya penggunaan artificial intelligence sebagai alutsista TNI,” tambahnya.

Kapusjianstra TNI juga mengharapkan dengan pembahasan mengenai teknologi Artificial Intelligence ini memberikan ga,baran dan masukan betapa pentingnya Artificial Intelligence untuk menjaga wilayah perbatasan negara Indonesia.

Dilansir dair Scientific American, Rabu (30/3/2022), seorang Profesor Emiritus bidang AI dan Robotika dari Universitas Sheffield di Inggris, Noel Sharkey, menegaskan bahwa senjata otonom merupakan bahaya yang unik bagi umat manusia.

Layaknya film Terminator, senjata otonom dapat menemukan, melacak, memilih, dan menyerang target dengan membabi buta, semuanya tanpa pengawasan manusia.

"Mereka bisa terdiri dari tank pesawat, kapal dan kapal selam yang semuanya dikendalikan komputer. Bukan tidak mungkin jika senjata terlalu pintar dapat mengambil alih kendali sepenuhnya," kata Sharkey.

Senjata otonom penuh sendiri telah dikembangkan oleh sejumlah negara di dunia. Salah satunya, yakni Amerika Serikat (AS).

Sharkey menyampaikan, sejak pertengahan 2000-an, Departemen Pertahanan AS telah memicu perlombaan senjata berteknologi kecerdasan buatan dengan mengembangkan senjata otonom untuk semua cabang angkatan bersenjata. Setiap kekuatan perang di AS, baik itu kekuatan besar dan beberapa kekuatan kecil telah berusaha untuk menghadirkan sistem senjata ini.

Bukan hanya, AS, China juga disebut telah berhasil mengembangkan senjata otonom. Menurut Menteri Pertahanan AS Mark Esper, China sudah mengekspornya ke Timur Tengah.

Melihat begitu banyaknya resiko atau ancaman di kemudian hari yang tidak akan bisa di hindarkan, tentu menjadi poin penting atau PR bagi setiap negara dunia dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk yanh akan terjadi. AI tak hanya menjadi teknologi yang membantu manudia namun di kemudian hari, teknologi yang di terus berkembang dan sedemikian rupa di rancang dengan kecerdasan buatan tentu saja dapat mencam keamana negara-negara di dunia, melihat pesatnya persaingan negara adikuasa seperti AS dan china tentu besar kemungkinan akan terjadinya dominasi kekuatan di masa mendatang,ancaman terhadap geopolitik di negara yang sudah modern tidak bisa di lihat dari kacamata hard power ( militer ) suatu negara, namun kemampuan negara yang di seimbang akan membentuk negara yang super power (Negara adikuasa), tentu karna perkembangan teknologi akan menjadi titik buram negara di dunia dalam melihat ancaman yang kemungkinan terjadi.(***)





BERITA BERIKUTNYA