Keluarga Korban akan Cabut Laporan di Polresta Jambi

Soal Kasus Perkelahian Antar Siswa di SMPN 17 Kota Jambi Berakhir Damai

Rabu, 20 Juli 2022 - 11:29:34 WIB - Dibaca: 2568 kali

SMPN 17 Kota Jambi (19/07/22).
SMPN 17 Kota Jambi (19/07/22). (Foto: Istimewa)

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI - Kasus dugaan kekerasan terhadap siswa baru di SMPN 17 Kota Jambi berakhir damai. Pihak sekolah didampingi dinas pendidikan, Babinkamtibmas, dan pengawas sekolah serta para orang tua yang terlibat melakukan mediasi, Selasa (19/7). 

Hasil mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan dimana para pihak bersepakat menyelesaikan secara damai permasalahan yang terjadi terhadap semua Pihak, baik Pihak Pertama (korban), pihak Kedua dan Ketiga (pelaku). Selanjutnya, bunyi kesepakatan itu disebutkan, segala akibat dari kejadian tersebut akan ditanggung oleh Pihak Kedua dan Ketiga (orang tua pelaku) sampai sembuh. Perjanjian dibuat tanpa ada tekanan dan paksaan dari Pihak manapun. Apabila dilain waktu terjadi lagi maka pihak yang terlibat akan dikembalikan kepada orang tua. 

Usai mediasi, Kasi Peserta Didik SMP, Dinas Pendidikan Kota Jambi, Handra Anwar mengatakan, pihaknya sudah terus berupaya mengontrol sekolah, baik terhadap guru melalui pengawas, pembina maupun secara langsung.

“Kami juga sudah turun ke sekolah memberi edukasi agar kejadian terkait kekerasan tidak terjadi. Termasuk saat dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beberapa waktu lalu. Semua sekolah sudah kita berikan surat edaran,” jelas Handra Anwar.

Mengenai permasalahan yang terjadi di SMPN 17 Kota Jambi, Handra menyebutkan telah mempertemukan kedua belah pihak untuk dicarikan solusinya. Hasilnya, mereka sepakat berdamai.

“Kita luruskan masalah (pengeroyokan,red) yang mengakibatkan kaki siswa keseleo. Pihak keluarga sepakat menyelesaikannya secara kekeluargaan. Ini bukan kecolongan. Kita sudah maksimal mengontrolnya, tapi memang ada celah terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” jelasnya.

Kata dia, para pihak sudah sepakat untuk berdamai dan anak yang mengalami dugaan kekerasan akan ditanggung biaya pengobatannya hingga sembuh. 

Sementara itu, Kepala SMPN 17 Kota Jambi, Bambang Hermanto menyebutkan, aksi pengeroyokan terhadap siswa baru mereka tidak benar atau hoaks.

Sebab, setelah dilakukan konfirmasi kepada siswa yang terlibat, tidak ada aksi pengeroyokan sebagaimana yang dikabarkan sebelumnya. 

Dia lalu menjelaskan awal mula peristiwa yang menimpa AP (12), siswa baru di SMPN 17 Kota Jambi itu.

Bermula pada Senin 18 Juli 2022 kemarin merupakan hari pertama masuk sekolah usai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Para siswa SMPN 17 Kota Jambi pun memulai kegiatan dengan melakukan upacara bendera di lapangan SMPN 17 Kota Jambi.

Lanjut Bambang, seusai upacara ada jeda waktu menjelang jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai di masing-masing kelas.

“Nah di saat itu, yang bersangkutan AP dan rekannya, sama-sama satu kelas terjadi perkelahian. Di saat yang bersamaan saat itu kita para majelis guru sedang rapat, karena hari itu merupakan hari pertama masuk sekolah,” jelasnya.

Ditambahkannya, melihat adanya perkelahian antara AP dan rekannya, sontak siswa lainnya memprovokasi. Sehingga perkelahian semakin tak terelakkan.

“Jadi sekali lagi tidak ada pengeroyokan. Yang ada hanya mereka dikompori,” jelas Bambang. 

Sedangkan terkait aksi pemalakkan yang diduga menjadi latarbelakang hal ini, dijelaskan Bahinkamtimbas Kelurahan Simpang IV Sipin, Bripka Solihin yang ikut dalam rapat tertutup tersebut, menampik informasi tersebut.

“Tidak ada informasinya seperti itu. Sudah dipanggil satu persatu siswa-siswanya tadi yang diduga terlibat, dan tidak ada yang menyatakan hal tersebut (pemalakan,red),” terangnya.

Orang tua AP, Ratih Sundari mengaku menerima hasil rapat tersebut. Di mana orang tua MA dan AW, yang tak lain rekan sekelas AP bersedia menanggung biaya pengobatan AP.

“Mata kaki dan tumitnya (AP, red) retak. Kami menyerahkan hal ini ke sekolah, karena telah dilakukan secara kekeluargaan, laporannya akan kami cabut,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Anggota Komisi IV DPRD Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly mengatakan, selaku Anggota DPRD Kota Jambi Dapil Telanai Pura dan Anggota Komisi IV DPRD Kota Jambi merasa prihatian terhadap kejadian yang mencoreng dunia pendidikan baru- baru ini di SMPN 17 Kota Jambi.

Ada nya aksi tidak terpuji terhadap pemukulan, pemalakan dan pengroyokan terhadap siswa baru, yang baru bersekolah di SMPN 17 Jambi. Arkama Putra menjadi korban oleh kakak kelas nya di hari pertama bersekolah.

"Hal ini sepatunya tidak boleh terjadi, karena anak-anak didik kita ini, bersekolah untuk menimba ilmu, bukan untuk menjadi tindakan kekerasan kakak kelasnya (Senioritas). Maka saya secara pribadi, selaku bagian orang tua prihatin dan minta kepada pihak Disdik dan penyelenggara pendidikan di kota Jambi untuk meminimalisir perilaku senioritas yang ada di sekolah dan melakukan pembinaan berkelanjutan," katanya, Selasa (19/7).

Kata Faried, dikhawatirkan senioritas disekolah memiliki dampak negatif. Penyalahgunaan senioritas yaitu pemanfaatan status senior secara berlebihan dan memunculkan perilaku yang tidak wajar dan semena-mena kepada junior.

"Insya Allah kejadian ini akan menjadi perhatian dan pengawasan dikomisi IV, dan saya sudah laporkan ke pimpinan Komisi IV untuk segera ditindaklanjuti," pungkasnya. (**)





BERITA BERIKUTNYA