Kekuatan Safrial dan AJB Sebagai Wakil Sangat Mendukung, Representasi Pemilih Melayu dan Kerinci

FU dan Fasha Menguat, Partai ‘Kebingungan’

Senin, 16 Maret 2020 - 07:59:39 WIB - Dibaca: 8790 kali

()

Jambione.com, JAMBI- Operasi senyap Fachrori Umar (FU) dan Safari keliling daerah yang dilakukan Syarif Fasha dalam beberapa hari terakhir cukup moncer. Dari penilaian sejumlah pengamat dan pantauan di media sosial (Medsos), nama kedua kandidat bakal calon gubernur (balongub) ini sangat ramai dibahas dan diperbincangkan. Posisi nilai tawar keduanya pun menguat. Sebaliknya sejumlah partai dikhabarkan menjadi kebingungan memutuskan dukungan.

 Fachrori Umar misalnya. Dalam dua hari terakhir nama kandidat petahanan ini paling banyak dibahas. Ini dipicu oleh pengakuan Safrial yang siap menjadi pasangan atau wakilnya di Pilgub mendatang. Bupati Tanjab Barat itu mendatangi sejumlah kantor media, Sabtu (14/3) menyatakan kesiapannya mendampingi Fachrori.

Pernyataan Safrial itu cukup mengejutkan. Karena selama ini, tokoh dan kader senior PDIP itu selalu ngotot menyatakan dia maju sebagai calon gubernur (cagub) bukan cawagub. Informasinya, karena kurang mendapat dukungan dari partai, akhirnya Safrial ‘jual murah’ siap menjadi wakil Fachrori.

Pernyataan Safrial itu pun jadi rame. Imbasnya nama Fachrori pun jadi diperhitungkan kembali. Padahal sebelumnya, Fachrori sempat diremehkan. Bahkan sudah dianggap tidak masuk hitungan. Selain hasil survey elektabilitasnya rendah, FU juga belum belum punya gambaran partai pengusung.

Namun belakangan, Fachrori berhasil membalik keadaan. Pernyataan Safrial seolah olah membuktikan bahwa operasi senyap Fachrori berhasil. Selain itu tim keluarga kandidat petahana ini yang sebelumnya lesu darah, menjadi bergairah lagi. Bahkan mereka mengklaim sudah hampir final mendapatkan dukungan Demokrat, Nasdem, dan Hanura.

Kondisi serupa terjadi di kubu Syarif Fasha. Sebelumnya, Wali Kota ini  dianggap sebagian kalangan sudah ‘habis’, pasca Musda Golkar. Bahkan, Fasha diprediksi bakal sulit dapat partai karena berani ‘melawan’ partai beringin. Namun, belakangan, secara perlahan, kandidat yang diidentikan dengan kaum milenial ini membalikkan keadaan.

Diam diam Fasha dan timsesnya gencar melakukan safari turun ke desa desa di Merangin dan Muarojambi. Ternyata sambutannya luar biasa. Walikota Jambi dua periode itu dielu elukan masyarakat. Di Desa Pondok Meja, Kecamatan Mestong misalnya. Seorang ibu ibu mengakui keberhasilan Fasha membangun Kota Jambi. ‘’ Pak Fasha, Kota Jambi kan sudah bagus. Coba Muarojambi lagi dibagusin. Suadah Saatnya pak Fasha menjadi gubernur,’’ kata ibu muda tersebut.

Selain makin masif melakukan sosialiasi ke desa desa, Fasha juga makin intensif mendekati partai. Selain PPP, Fasha juga dikhabarkan tengah menunggui proses masuk ke PDIP. Selain itu, dia juga hampir dipastikan mendapat dukungan dari partai Gerindra. Yang teranyar,  Fasha dikhabarkan sudah memutuskan Wali Kota Sungai Penuh Asyafri Jaya Bakri (AJB) sebagai wakilnya.

Ini diketahui dari pesan AJB kepada relawan dan timsesnya melalui pesan whatsapp yang beredar luas. ‘’ Kepada Seluruh Relawan dan simpatisan Ajb. Al hamdulillah saya sudah dipanggil pak Fasha Minggu malam 8 Maret, jam 22.45 berbincang terkait Pilgub sampai jam 00 30 Wib. Beliau setuju saya AJB sebagai CAWAGUB Beliau. Deklarasi FASHA-AJB akan ditentukan menungu moment yang tepat. Menunggu petunjuk pak Fasha. Kegiatan kegiatan selanjutnya dibawah arahan  beliau. Wss AJB,’’ begitu bunyi pesan AJB yang beredar luas di grup grup whatsapp.

Dengan menggaet AJB, Fasha mendapat dua keuntungan. Pertama, duet Fasha-AJB akan mendapat dukungan penuh dari sebagian besar pemilih di Kerinci dan Sungai Penuh. Seperti diketahui, pemilih Kerinci dan Sungai Penuh sangat militan. Yang kedua, pasangan ini kemungkinan besar mendapat dukungan dari Demokrat, partainya AJB.

Pengamat Politik dari Unja, Dori Efendi menilai, dinamika Pilgub 2020 di Jambi ini memang menarik. Ini karena semua calon sedang dalam kesulitan untuk memastikan mereka berpasangan dengan siapa. Bahkan, menurut dia, partai politik pun nampak kebinggungan menjatuhkan pilihan.

Menurut Dori, masalahnya sederhana. Para calon gubernur hanya berasal dari dua partai politik saja. Golkar (Fasha, CE, dan Al Haris) dan NasDem (Fachrori Umar). "Sedangkan partai-partai lain belum kelihatan serius mengusung kadernya sebagai calon gubernur. Itu lah kenapa sampai saat ini masih meraba-raba antar pasangan," katanya.

Dori mengatakan setidaknya ada beberapa alasan untuk menilai hal ini. Pertama Fasha-AJB, sejak awal sudah diwacanakan berpasangan. Peluang ini amat besar karena Perahu partai Demokrat pasti mengusung kadernya untuk berkonterstasi. "Artinya pasangan ini hanya perlu menambah satu partai politik yang memiliki 4 kursi untuk diusung," sebutnya.

Selain itu, pasangan Fasha-AJB juga diuntungkan dengan jumlah pemilih. Yakni, pemilih milenial yang cenderung representasinya ke Fasha, pemilih emak-emak dan suara etnik Kerinci yang cukup signifikan. "Apalagi loyalitas atau kesetiaan etnik Kerinci yang tidak diragukan lagi," katanya.

Kemudian, pasangan Haris-Sani, ini juga memiliki peluang yang besar dalam kontestasi paling bergengsi di Provinsi Jambi tahun ini. Hanya saja, kata Dori, partai pengusungnya yang masih meragukan. Sampai saat ini, Al Haris bersaing dengan Fasha mendapatkan PKS. Sementara untuk mendapatkan PDIP, Haris-Sani harus bersaing dengan Safrial yang menyerahkan diri ke Fachrori. Selain itu, Fasha yang akan bergabung dengan PDIP, juga mengincar perahu banteng mocong putih ini.

Untuk representasi pemilih, menurut Dori, Haris akan bersaing ketat dengan calon dari Jambi wilayah barat, seperti Cek Endra dan AJB. Sedangakan untuk wakil Haris juga harus bersaing ketat dengan (Sukandar) yang juga merupakan tokoh sentral dari etnik Jawa. "Tentu Sani akan bekerja keras untuk menarik simpati etnik Jawa agar memilih beliau," jelasnya.

Lalu pasangan CE-Sukandar. Permasalahan yang hampir sama dengan semua kandidat. Namun, untuk partai politik dapat dikatakan Golkar bakal berlabuh ke CE karena Bupati Sarolangun ini sebagai ketua DPD nya.

"Sedangkan indikator pemilih yang primordial CE tentu juga akan bertarung merebut suara Jambi wilayah barat dan pemilih primordial dari etnik Jawa yang komposisinya 26 persen," jelasnya.

Menariknya, kata Dori, pada pasangan keempat, FU-Safrial. Pasangan ini adalah representasi dari Melayu Jambi. Akan tetapi kata Dori, popularitas dari FU masih di bawah tiga kandidat lainnya. "Artinya persoalan yang muncul adalah partai pengusung calon tersebut. Jika melihat komposisi pemilih Melayu Jambi mencapai 51 persen, artinya peluang petahana terbuka lebar untuk menarik simpati mereka," jelasnya.

"Artinya semua calon harus mampu memobilisasi masa dan merebut dukungan etnis supaya muncul simpati kelompok-kelompok primordial terhadap mereka," pungkasnya.

Pengamat politik lainnya, Navarin Karim mengatakan, ada tiga kandidat yang masuk dalam survey, menjadi kandidat terkuat. "Fachrori Umar, walaupun tidak masuk lima besar survei, tetap berpeluang karena sebagai petahana," ujarnya.

Terkait Safrial yang memilih jadi nomor dua, dosen Fisipol Unja ini mengatakan Safrial melihat peluang terpilih masih ada di petahana. Makanya dia merapat dan membuka diri sebagai nomor dua. "Ini menjelilat air ludah sendiri. Karena dia pernah bilang di media tidak sebagai nomor dua, itu yang dikatakan integritas. Pengaruh survei jadi gamang," sebutnya.

Menurutnya, jika FU mengambil Safrial jadi wakilnya, mesin politik jadi kuat. Mereka juga mulai diperhitungkan kandidat lain. "Akan bersaing dan bisa mulai diperhitungkan orang. Itu pengaruh Safrial menurunkan sahwat kekuasaan tadi," jelasnya.

Apalagi kata dia, dengan jabatan yang masih diemban keduanya tentu mempermudah mereka turun ke lapangan. "Lebih lancar turun ke lapangan, karena masih memiliki fasilitas. Tapi yang sudah tidak punya jabatan tentu agak berpikir dua kali meski didukung partai," sebutnya.(fey/kum)





BERITA BERIKUTNYA