JAMBIPRIMA.COM, TEBO – Tumpukan sampah yang menggunung di depan lingkungan sekolah menengah kejuruan menjadi pemandangan yang kontras dengan semangat menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih dan sehat. Di depan SMK Negeri 2 Tebo, tepatnya di Jalan M. Hatta, Kelurahan Mandiri Agung, Kecamatan Rimbo Bujang, tumpukan sampah rumah tangga dan limbah plastik menebarkan aroma busuk yang menyengat serta memicu keluhan warga.
Pantauan di lokasi pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan sampah berserakan di sepanjang bahu jalan. Beberapa kantong plastik terlihat robek, sementara sisa-sisa sampah tercecer hingga mendekati badan jalan. Saat cuaca panas, bau menyengat dari tumpukan sampah semakin terasa dan terbawa angin ke lingkungan sekitar, termasuk ke arah sekolah.
Bagi masyarakat yang setiap hari melintasi ruas jalan tersebut, kondisi itu bukan lagi persoalan estetika semata. Keberadaan sampah yang menumpuk tepat di depan institusi pendidikan dinilai mencerminkan persoalan yang lebih mendasar, yakni belum optimalnya pengelolaan sampah di kawasan padat penduduk.
Sekolah Berhadapan dengan Persoalan Lingkungan
Lingkungan sekolah idealnya menjadi ruang yang bersih dan nyaman untuk mendukung proses belajar mengajar. Namun kondisi yang terjadi di depan SMKN 2 Tebo justru memperlihatkan situasi sebaliknya.
Tumpukan sampah yang terus bertambah dikhawatirkan dapat memengaruhi kenyamanan siswa dan tenaga pendidik. Selain menimbulkan bau tidak sedap, sampah yang dibiarkan menumpuk dalam waktu lama berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya lalat, tikus, dan berbagai vektor penyakit lainnya.
Warga sekitar menilai keberadaan lokasi pembuangan liar di depan sekolah dapat memberikan citra buruk terhadap lingkungan pendidikan. Apalagi, kawasan tersebut merupakan salah satu jalur yang cukup ramai dilalui masyarakat setiap hari.
"Sangat disayangkan. Lokasinya persis di depan sekolah. Selain merusak pemandangan, baunya juga sangat menyengat, terutama saat siang hari. Kalau tertiup angin, aromanya sampai mengganggu pengguna jalan dan lingkungan sekitar," kata Ratno, salah seorang warga yang melintas.
Diduga Akibat TPS Minim dan Pengangkutan Tidak Optimal
Munculnya gunungan sampah di lokasi tersebut diduga tidak terjadi dalam waktu singkat. Warga menduga minimnya fasilitas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang memadai serta keterlambatan pengangkutan menjadi faktor utama penyebab sampah terus menumpuk.
Ketika kapasitas penampungan tidak mencukupi atau jadwal pengangkutan tidak berjalan secara rutin, sampah yang dibuang warga akan terus bertambah dari hari ke hari. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuang sampah di lokasi yang dianggap praktis, meskipun bukan tempat yang semestinya.
Akibatnya, kawasan yang awalnya hanya menjadi titik penumpukan sementara bertransformasi menjadi lokasi pembuangan liar yang sulit dikendalikan.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di satu titik. Di sejumlah daerah, persoalan serupa kerap muncul ketika pengelolaan sampah tidak diimbangi dengan ketersediaan fasilitas, edukasi masyarakat, dan pengawasan yang konsisten.
Warga Minta Penegakan Aturan
Di tengah keluhan yang terus bermunculan, warga berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pengangkutan sampah yang sudah menumpuk. Mereka menilai perlu ada langkah yang lebih komprehensif agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Ratno menegaskan bahwa penindakan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan juga menjadi bagian penting dari solusi.
"Jangan hanya dibersihkan, pelakunya juga harus ditindak. Kalau tidak ada sanksi tegas, sampah akan terus menumpuk dan masalah ini tidak akan pernah selesai," tegasnya.
Desakan pun diarahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tebo dan pemerintah Kelurahan Mandiri Agung agar segera mengambil langkah konkret. Selain mempercepat pengangkutan sampah yang ada, warga berharap dilakukan penataan lokasi, penyediaan fasilitas yang memadai, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap aktivitas pembuangan sampah liar.
Antara Kesadaran dan Tanggung Jawab Bersama
Persoalan sampah pada akhirnya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya juga menjadi faktor penting dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Namun di sisi lain, pemerintah dituntut menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang efektif, mulai dari penyediaan sarana, pengangkutan yang terjadwal, hingga penegakan aturan bagi pelanggar.
Selama kedua aspek tersebut belum berjalan beriringan, tumpukan sampah seperti yang terjadi di depan SMKN 2 Tebo berpotensi terus terulang. Padahal, lingkungan sekolah semestinya menjadi simbol pendidikan dan pembentukan karakter, termasuk dalam menanamkan budaya hidup bersih kepada generasi muda.
Kini, warga menunggu langkah nyata dari pihak terkait. Mereka berharap kawasan di depan sekolah itu kembali bersih, sehat, dan nyaman, sehingga tidak lagi menjadi titik pembuangan sampah liar yang mengganggu aktivitas masyarakat maupun dunia pendidikan. (San)