JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Perasaan gelisah kerap muncul meski seseorang merasa telah ikhlas menerima keadaan yang telah berlalu. Kondisi ini ternyata memiliki penjelasan tersendiri dalam pandangan agama.
Berdasarkan ulasan yang dimuat di Sidakpost.id, ulama Buya Yahya menjelaskan bahwa kegelisahan tersebut bisa muncul karena belum seimbangnya rasa takut dan harapan kepada Allah SWT dalam diri seseorang.
Menurutnya, dalam menjalani proses taubat, setiap orang perlu memiliki keseimbangan antara rasa takut atas dosa dan harapan akan ampunan Allah. Keduanya diibaratkan seperti dua sayap yang harus ada agar hati bisa mencapai ketenangan.
Jika hanya diliputi rasa takut, seseorang berpotensi terjebak dalam keputusasaan. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan harapan tanpa rasa takut, maka bisa membuat seseorang meremehkan dosa yang pernah dilakukan.
Buya Yahya juga menyebut, kegelisahan yang masih terasa meski sudah merasa ikhlas bisa jadi karena belum tumbuh keyakinan penuh bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa tersebut.
Padahal, Allah SWT Maha Pengampun bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat. Karena itu, penting untuk terus menumbuhkan keyakinan dan memperbaiki diri agar hati menjadi lebih tenang.
Selain itu, ia mengingatkan agar tidak mudah menghakimi atau merendahkan orang lain yang pernah berbuat kesalahan. Sikap tersebut justru dapat menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan.
Dengan memahami keseimbangan antara rasa takut dan harapan, diharapkan setiap individu mampu meraih ketenangan batin dan tidak lagi dihantui kegelisahan. (Rhm)
Aa Gym Ingatkan Pentingnya Berserah, Pertolongan Allah Selalu Dekat
Aa Gym: Perbedaan Pendapat Itu Wajar, Jangan Disertai Amarah
Ustadz Abdul Somad Jelaskan Lima Tahapan Perjalanan Manusia dalam Tausiah
Makna Idul Fitri 1447 H: Kembali Suci, Pererat Silaturahmi dan Peduli Sesama
Buka Puasa Bersama DPRD Jambi, Hafiz Fattah Ajak Pererat Silaturahmi Jelang Idul Fitri
Bukber SMSI Jambi Tanpa Pejabat, Mukhtadi: Anggaran Lagi Puasa