DUKA GERIMIS
Hujan pagi ini menorehkan pilu
Mengingat pesanmu sepekan lalu
Bermeter-meter jarak memandang rindu
Mencoba menjadi batas dalam dingin berpalu
Hujan pagi ini berkabut haru
Masih ingat sepekan itu
Kini pagi menjadi diri dalam duka gerimis
Masih ingat ketika wajahmu dalam tangis
Kini gerimis begitu lamanya turun
Biaskan barometer dalam diri
Hujan pagi ini menorehkan pilu
Wajahmu masih tampak mumbul di kelopak rindu
Biarlah pagi menjadi diri dalam duka gerimis
Januari 2021
ELEGI
Berganti hari dalam jendela-jendela hati
menjamah sepi. Tak lagi ada ragu menurut
menjelma diri. Kini ranumnya kuncup mengepak
diri untuk berdusta. Tak lagi bermakna adanya
temu dalam manisnya cinta
dan demikian adanya dunia. Berganti hari dalam
jendela-jendela hati menjamah sepi. Aku merasa
tersudutkan perasaan, cinta, warna, dan wangi
mengejar diri mengoyak rasa dan dusta
Begitulah adanya kini. Berganti hari dalam
rapuhnya kelopak binar matamu
Aku merasa tersudutkan waktu
Februari 2021
MEDIO
ketika kutuliskan angin kepada hari
mulai terasa renggang jemari di undak-undak waktu kita
ku ulang lagi menuai rasa dibias remang-remang kepergianmu
ku ulang lagi mengunci rapat-rapat tingkap tempat biasa kita tertegun bersama
ku ulang lagi menggores setapak yang pernah kita genggam bersama
ketika kutuliskan angin kepada jarak
mulai terasa renggang waktu di sela-sela jemari kita
tentang bersama aku telah titipkan pada hatimu yang mega
kini waktu mulai membelah, menggamangkan tegakku menatap di ujung buram masa nanti
sebentuk mantra di bibirmu membisik di telingaku
akhirnya aku mengalah dengan medio ini.
Februari 2021
Aku Kamu adalah Kita
Adalah malam ini otakku seperti serdadu yang menyodorkan sederetan selongsong rasa mendalam
Menyeret lekuk-lekuk dingin ke bibir yang mulai terpagut merayap dilidah hasrat
Adalah malam ini otakku seperti bendungan yang menampung ribuan kubik darah memusat
Menimbun waktu-waktu rindu kedalam segenggam tangan yang semakin erat
Dipundakku ada sebentuk beban yang tak tampak
Dilidahku ada sebentuk kata yang tak terucap
Ditanganku ada sebentuk genggaman yang tak terasa
Adalah malam ini seperdua nyawa sudah kubagi untukmu
Seperduanya lagi aku simpan untuk bingkisan hidupmu nanti
Maret 2021
Menanggung Rindu
Ditingkap aku tertegun
Langit mendung udara basah
Sesekali angin mengejutkan waktu
Semenjak hari lalu rindu sudah kupintal
Biar tak dikata kacang lupakan kulit
Tapi sederetan kisah-kisah baru hinggap tanpa permisi
Mengikat aku pada keadaan
Ditingkap aku tertegun
Langit mendung kini menangis
Sesekali angin datang lalu pergi
Aku menanggung rindu, biarlah
Rindu ini kutanggung
April 2021
Profil singkat penulis:
Anggi Yaser Putra, Lahir di Payakumbuh 6 April 1988. Alumni S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Padang. Menulis ialah menjejak aksara dari berbagai pengalaman sehingga ia akan terus menulis. Saat ini ia aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 4 Tebo. Selain menulis, pria berkacamata ini juga suka dunia fotografi dan musik.
Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Facebook ANGGI YASER PUTRA, Instagram @anggiyaserputra dan Channel Youtube ANGGI YASER PUTRA MUSIK