Kebakaran Lahan di Betara dan Dendang Belum Berhasil Dipadamkan, Asap Tebal Selimuti Kota Tungkal

Kamis, 05 September 2019 - 08:38:09 WIB - Dibaca: 2137 kali

()

KUALATUNGKAL-  Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di wilayah Tanjab Barat tiga hari terakhir mulai berdampak luas.  Rabu (4/9) kemarin, kabut asap bercampur demu menyelimuti kota Kualatungkal makin tebal dan pekat. Aktifitas wargapun mulai terganggu. Selain mengganggu pernafasan, asap juga menyebabkan mata perih.

            Iwan salah seorang warga Tungkal Ilir, mengeluhkan kondisi udara yang belakangan ini dirasakannya sudah tidak sehat. Karena berdampak langsung pada kesehatan dan kesegaran udara. "Terasa sekali sekarang efek asap ini. Begitu bangun tidur mata perih, napas sesak," katanya. 
            "Kondisi seperti ini hampir sama dengan tahun 2014 dan 2015," timpal Udin warga Tungkal Ilir, lainnya. Untuk mengantisipasi kondisi kurang nyaman ini masyarakat berharap pemerintah cepat bertindak.             "Kalau memang tidak bagus untuk kesehatan, ya liburkan saja anak sekolah atau bagi bagi masker ke masyarakat bentuk kepedulian," tambahnya.

            ‎ Kepala Dinas Kesahatan Tanjab Barat, Andi Pada mengatakan, berdasarkan pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU),  kondisi udara di Tanjab Barat sudah masuk dalam kategori tidak sehat. Sehingga dianjurkan kepada masyarakat mengurangi aktifitas di luar rumah atau gedung jika tidak perlu.

Menurut Andi, pihaknya sudah membagi bagikan masker di Simpang Rumah sakit, simpang Ancol, simpang Wisno, simpang tugu dan depan BNI Kualatungkal. Dia menghimbau warga yang melakukan aktifitas di luar rumah menggunakan masker. "ISPU di Tanjab Barat masuk dalam kategori tidak sehat. Masyarakat dianjurkan tidak beraktifitas di luar ruangan bila tidak perlu,’’ katanya.

‘’Bagi anak sekolah belum perlu diliburkan, dan sementara tidak melakukan aktifitas olahraga di luar ruangan sampai kualitas udara kembali membaik," ujarnya.

            Sementara itu dari Tanjab Timur dilaporkan, Dandim 0419/Tanjab Letkol Inf M Arry Yudistira bersama Kapolres AKBP Agus Desri Sandi meninjau langsung lokasi kebarakan lahan di Kecamatan Dendang, Rabu (4/9) kemarin.  Saat ini terdapat 250 personil gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Damkar, masyarakat, dan dibantu oleh pihak perusahaan masih berjibaku memdamkan api di lokasi tersebut.

            “Sejumlah alat, mulai dari yang alat berat hingga peralatan pemadam pun telah dikerahkan ke lokasi. Harapannya api segera bias dipadamkan dan memutus sebaran lahan yang terbakar,” kata Dandim.

Kapolres AKBP Agus Desri Sandi menambahkan bahwa Polda dan Korem telah mengirimkan bantuan personil, masing-masing sebanyak 50 orang ke lokasi. Bantuan tenaga ini diharapkan dapat segera memadamkan titik api yang telah tiga hari belum berhasil dipadamkan. “Harapan kita semua tentunya, bencana karhutla dan kabut asap ini segera berlalu,” tandasnya.

            Berdasarkan pantauan sensor modis tertanggal 4 September,  di Provinsi Jambi terdapat

62 hotspot atau titik api. 50 diantaranya tersebar di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Lalu sisanya terpantau di Kabupaten Muarojambi 5 hotspot, Tanjung Jabung Barat 3 hotspot, Sarolangun 2 hotspot, dan di Bungo dan Merangin masing masing satu hotspot.  

Dari 50 hotspot yang terpantau di Tanjabtim, 37 diantaranya tersebar di Kecamatan Dendang. Sisanya 13 hotspot di Kecamatan Sadu. BPBD Tanjabtim membenarkan pantauan sensor modis itu. Saat ini Kecamatan Dendang merupakan lokasi Karthutla terparah, yakni di Desa Catur Rahayu dan Desa Jati Mulyo.

“Sebenarnya di Dendang itu ada dua lokasi utama. Yakni di Desa Catur Rahayu dan Desa Jati Mulyo. Hanya saja karena dalam satu hamparan Karhutla terdiri dari sejumlah titik api, makanya terpantau oleh satelit sebanyak 37 titik api,” jelas Indra, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tanjabtim.

Menurut Indra, sekitar 80 hektar lahan yang terbakar di Kecamatan Dendang itu terdiri dari lahan milik masyarakat dan dua perusahaan. Yakni lahan konsesi PT Atga dan PT Kaswari Unggul. “Karhutla di Dendang sendiri telah terjadi sejak tiga hari lalu. Ada titik api yang tengah dalam proses pendinginan, dan ada pula titik api baru yang hingga saat belum berhasil dipadamkan,” terangnya.(son/zal)

 



Tags:


BERITA BERIKUTNYA