AJB Mulai Bangun Dinasti Politik Peluang di Pilgub Terbuka Lebar Jika Kerinci Bersatu

Kamis, 22 Agustus 2019 - 05:46:49 WIB - Dibaca: 2763 kali

(Kusnizar/Jambione.com)

JAMBI - Klan Asafri Jaya Bakri (AJB) sepertinya sangat mengakar di Kota Sungai Penuh. Setelah dua periode memimpin daerah pemekaran Kabupaten Kerinci itu, kini putra AJB, Fikar Azami yang saat ini menjabat Ketua DPRD Sungai Penuh juga mulai digadang-gadang bakal maju menjadi Calon Walikota Sungai Penuh melanjutkan kepemimpinan sang ayah.

            Selain itu, sang adik Ezzaty juga terjun ke dunia politik. Bahkan mampu meraih suara signifikan pada Pemilu 2019 lalu, yang mendudukkannya sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi dari Partai Demokrat.  

            Belakangan, Istri AJB,  Hj. Emizola Asafri,  juga mulai membidik dunia politik. Tak tanggung-tanggung, ia langsung menduduki pucuk pimpinan sebagai Ketua NasDem Sungai Penuh. Padahal suaminya, AJB merupakan merupakan Ketua Majelis Pertimbangan partai Demokrat. Sedangkan Putranya Ketua DPC Demokrat Sungai Penuh.

            Terkait fenomena politik itu, pengamat politik Bahren Nurdin menilai dalam politik merupakan hal yang wajar suami istri menjadi ketua partai berbeda. "Jadi, secara hukum yang mereka lakukan tidak salah dan itu sah," katanya.

            Akan tetapi, lanjut dia, jika dilihat dari aspek sosial, sangat jelas AJB sedang meramu dinasti politik yang dibuktikan dengan dua anaknya masuk ke ranah politik serta istri yang saat ini memegang jabatan ketua partai. Ini sangat terlihat dengan jelas kepada masyarakat bahwa keluarga ini sedang membangun dinasti.

"Tampak yang dibuat sangat jelas dengan AJB yang berkeinginan di Pilgub. Lalu anaknya Fikar Azami yang diflot untuk Walikota Sungai Penuh," sebut akademisi UIN STS Jambi ini.

            Menurut Bahren, ukuran dari dinasti ini sebenarnya adalah tergantung dari penilaian masyarakat. Terutama warga Sungai Penuh. Apalagi selama AJB memimpin bersama dengan koloninya memperlihatkan hasil yang baik seperti pembangunan dan pemikirannya untuk kesejahteraan. "Tentu ini hanya diketahui oleh masyarakat Sungai Penuh itu sendiri," sebutnya.

            "Jika dalam masa itu terlihat positif, tergantung masyarakat lagi untuk kembali memilih, baik AJB untuk kontestasi Pilgub atau Fikar Azami pada Pilwako Sungai Penuh nanti," sambungnya.

            Hanya saja, kata Bahren, pola politik dinasti ini akan memunculkan stigma negatif. Karena berpotensi untuk menimbulkan kejahatan politik. Hal ini karena mereka akan lebih mudah untuk menggunakan hal tersebut untuk saling melindungi. Tetapi ada juga dampak positif  karena bisa saling bahu membahu untuk pembangunan dan mensejahterakan masyarakat.

            "Meskipun begitu tetap kesan terbesarnya adalah negatif. Namun ketika mampu membuktikan bahwa itu baik silahkan saja," sebutnya.

            Apakah rentetan itu akan berlaku hingga sampai 20 tahun kedepan dengan kembali memajukan Ezzaty di Sungai Penuh? Sekjend KPPD RI ini menyatakan pola itu sangat bisa terjadi karena kesempatan untuk memulai sudah dilakukan. "Terbukti dengan Ezzaty yang masih dibilang muda masuk sebagai Anggota DPRD Provinsi Jambi terpilih saat ini," sebutnya.

            Dengan didapatnya NasDem, Bahren mengatakan itu sudah merupakan strategi politik AJB membentuk dinasti politik. "Tidak hanya menempatkan istri, tapi semua yang dilakukannya sekarang merupakan strateginya," sebutnya.

 

Lalu bagaimana dengan peluang mantan Rektor IAIN (sekarang UIN) STS Jambi itu menuju Pilgub Jambi? Bahren mengatakan, saat ini semua masih mempunyai peluang yang sama hingga akhir tahun ini. "Saya lihat saat ini semua masih melakukan penjajakan, siapa dengan siapa. Semuanya masih menjajaki calon pasangannya," katanya.

            Menurut dia, belakangan Sy Fasha sempat akrab dengan AJB saat ke Sungai Penuh maupun di berbagai kesempatan. Bisa saja ada kemungkinan bersama. "Tapi saya lihat Fasha belum mengarahkan kesitu, masih menjajaki semua," ujarnya.

            Namun jika Fasha dan AJB bergabung, menurut Bahren cukup bagus, mengingat kedua kandidat tersebut merupakan perpaduan partai besar, yakni Golkar dan Demokrat. "Tapi apakah Cik Bur mau atau tidak kita tidak tahu. Meski sudah ada sinyal, tapi itu masih ngambang," jelasnya.

            Selain itu, kata Bahren, AJB juga punya peluang berpasangan dengan Fachrori Umar, karena istrinya Ketua NasDem.  Namun kemungkinan itu sangat kecil. Mengingat, saat ini politik wilayah cukup berpengaruh. Seperti wilayah barat dan timur, maupun perpaduan tua dan muda.

"Saya lihat pasangan yang menarik saat ini tua dan muda, lebih berpeluang dengan Fasha," ujarnya.

            Lalu bagaimana dengan kemungkinan AJB maju sebagai nomor satu, jika kedua organisasi besar HKK di Jambi bisa bersatu? Menurut Bahren, dari luar kerukunan Kerinci terlihat terbelah. Namun hakikatnya dari berbagai suksesi, Kerinci bisa menempatkan diri sebagai pemenang dan bisa bersatu.

            "Mereka bisa main dua kaki, organisasi A  ke satu kandidat, dan organisasi B ke kandidat lainnya. Itu cara-cara politik, siapapun pemenang mereka ada di dalam. Mereka tidak meski bersatu," sebutnya.  ‘’Jadi orang melihat ada dualisme, padahal tidak," katanya.(fey)

 



Tags:


BERITA BERIKUTNYA