Zola: Ada orang berkepentingan lain yang memanfaatkan saya

Selengkapnya, Pengakuan Zumi Zola Soal Uang Ketok Palu APBD Jambi

Jumat, 07 September 2018 - 09:01:20 WIB - Dibaca: 2771 kali

Zumi Zola
Zumi Zola (Ist/Jambione.com)

Jakarta – Nasib Pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Jambi tinggal di ujung tanduk. Mereka sepertinya tidak bisa lagi mengelak sudah menerima uang ketok palu.

Sebab, Gubernur Jambi nonaktif Zumi Zola mengakui adanya pemberian uang ketok palu untuk memuluskan pengesahan Raperda APBD Tahun 2017 dan 2018.

Zola meminta bantuan orang kepercayaannya, Apif Firmansyah untuk melobi anggota DPRD Jambi.
"Yang melaporkan informasi permintaan ketok palu itu Apif kepada saya, baru saudara Dodi. Itu mengapa saya minta saudara Dodi untuk koordinasi dengan Apif. Alasannya, Apif punya kemampuan berpolitik mendekati anggota Dewan," kata Zola saat menanggapi keterangan para saksi di persidangan, Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, dikutip dari detik.com, Kamis (6/9/2018).

Ada 10 orang saksi yang dihadirkan jaksa KPK untuk Zola, kemarin. Diantaranya, Direktur PT Artha Graha, Muhammad Imanuddin alian Iim, Karyawan PT Artha Graha (anak buah Iim), Sendi, Basri, dan Ferry. Kemudian jaksa juga menghadirkan mantan Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi Dodi Irawan. PNS Dinas PUPR Jambi, Wahyudi, Denny Ivan, Yudi, dan Suryadi.

Selain itu, dihadirkan juga Kepala bidang Ketenagalistrikan Dinas ESDM, Wasis juga jadi saksi.
Menurut Zola, orang kepercayaannya, Apif, mengaku akan melobi anggota Dewan tanpa mengeluarkan uang. Namun usahanya gagal dan akhirnya tetap memberikan uang.

"Pada awalnya dia melaporkan pada saya. Dia melakukan pendekatan dulu untuk mencari solusi tidak pakai uang, pertama itu, tapi pada akhirnya dia menyerah juga," kata Zola.

Selain itu, Zola mengakui ada kontraktor yang memberi gratifikasi terkait kepentingan adiknya, Zumi Laza, maju sebagai Wali Kota Jambi lewat PAN. Dia juga mengakui sejumlah bantuan untuk PAN lainnya, seperti biaya sewa kantor DPD PAN dan ambulans.

"Saya di BAP pada penyidik saya akui. Misalkan beberapa untuk kepentingan adik saya berencana jadi wali kota, tapi nggak jadi. Saya minta Apif langkah-langkah untuk sosialisi. Maklum, adik saya banyak di Jakarta. Bila itu diterjemahkan menjadi kebutuhan ambulans, kantor DPD PAN Kota Jambi, dan billboard itu bagian dari beliau menerjemahkan bantuan tadi. Itu sudah saya akui, dan umrah saya akui, memang sebagian besar angka itu saya tidak ingat," ungkap Zola.

Namun Zola menyebut ada orang yang berkepentingan lain memanfaatkannya. Misalnya bantuan untuk sapi kurban, Zola mengaku tak tahu-menahu. "Ada juga yang ada di saya, tapi saya juga bingung. Misalkan bantuan untuk sapi Rp 50 juta. Itu sapi seperti apa, acara apa Yang Mulia. Kalau betul saya ketahui saya akan akui itu," katanya.

Selain itu, Zola menyangkal adanya tim khusus yang bertugas mengumpulkan fee proyek kepada kontraktor. Ia mengaku hanya meminta Apif membantunya mencari informasi terkait adanya PNS yang menjadi lawan politiknya saat maju di Pilkada 2015.

"Tidak ada pembentukan tim untuk mengumpulkan fee. Tapi memang saya minta Apif membantu untuk dapat mencari info PNS mana yang jadi lawan politik saya. Karena maklum saya melawan incumbent saat itu dan memang digerakkan betul PNS saat itu," kata Zola.

"Tentu kalau sudah lawan politik tidak bisa kerja dengan saya. Saya emang minta bantuan beliau untuk merotasi nama-nama itu," imbuhnya.

Zola juga membantah memerintahkan Kadis PUPR Jambi Dodi Irawan untuk bersikap loyal, royal, dan total kepada dirinya. "Saya ingin sampaikan tidak ada perintah royal, total, loyal. Dalam pemilihan beliau lewat mekanisme lelang, saya tak bisa intervensi sampai 3 besar," katanya.


Lebih jauh Zola menjelaskan dirinya pernah meminta Apif mencari informasi terkait calon Kadis PUPR yang ada di tiga besar lelang jabatan. Zola menegaskan tak bisa melakukan intervensi dalam proses pemilihan Kadis PUPR tersebut.

"Pada tahap ini saya tugaskan Apif mencari info soal tiga ini ada catatan tidak. Saya dapati calon ada catatan BPK, temuan. PU ini kan tidak main-main. Nah saya tidak mendapati catatan soal Dodi. Itu kenapa saya pilih dia," ujarnya.

Sebelumnya, Jaksa KPK mengungkap tiga pesan Zumi Zola kepada para anak buahnya ketika dilantik, yaitu loyal, royal, dan total. Saat memberikan kesaksian, mantan Kadis PUPR Pemprov Jambi Dodi Irawan membeberkan arti dari tiga pesan Zumi tersebut.

Saat itu, Dodi diajak bertemu dua orang kepercayaan Zola, Apif Firmansyah dan Asrul Pandapotan Sihotang, di tengah proses mengikuti lelang jabatan tersebut. Menurut Dodi alasan royal, loyal, dan total adalah menaati perintah Zola kepadanya. Dodi pun menjelaskan maksud perintah Zola itu.

"Kalau loyal, kata Asrul, ya matahari cuma satu. Jadi saya harus ikut perintah Pak Gubernur," ujar Dodi. "Royal artinya saya bersedia memenuhi kebutuhan Gubernur. Kebutuhan itu ya kegiatan beliau. Ketika sewaktu butuh finansial, saya yang harus support," imbuh Dodi.

"Kalau total, itu saya harus siap kerja, Pak. Artinya, kalau Pak Gubernur ada kunjungan malam, siap mendampingi beliau kalau ada kerjaan," sambung dia. (red)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA